Melahirkan setelah "Diperk0s4", Wanita ini "Syok" di Rumah Sakit Pemerk0s4nya "Datang dan Lakukan ini"


Kejadian ini dialami seorang wanita berkulit putih dari negara Italia yang bernama Martha. Saat Martha pulang dari kerja sekitar pukul 1 malam, ia telah diperkosa oleh seorang pria berkulit hitam hingga tak sadarkan diri. Saat kejadian itu ia telah memiliki suami bernama Peterson.

Saat ia sadar, ia pulang ke rumah dengan tergesa-gesa. Keesokan harinya ia mencari pria kulit hitam itu untuk membuat perhitungan dengannya. Namun pria berkulit hitam tersebut sudah hilang tanpa diketahui dimana tempat tinggalnya. Beberapa waktu kemudian ia dinyatakan hamil.

Marta dan Peterson merasa khawatir kalau anak yang dikandungnya merupakan anak dari pria berkulit hitam tersebut. Marta berusaha untuk menggugurkan kandungannya, namun suaminya masih berharap kalau anak yang dikandung adalah anak mereka berdua. Beberapa bulan kemudian Marta melahirkan seorang bayi perempuan, dan ternyata ia berkulit hitam.

Kekhawatiran pasangan ini menjadi kenyataan, bahwa bayi yang dilahirkan itu adalah bayi dari pria berkulit hitam tersebut. Peterson dan Martha berencana untuk mengirim bayi tersebut ke panti asuhan, namun hal itu diurungkan karena tidak tega ketika mendengar tangisan bayi tersebut.

Akhirnya mereka memutuskan untuk merawatnya dan memberinya nama Monika. Monika sekarang telah berusia 10 tahun. Petaka menimpa pasangan Marta dan Peterson ini, Monika mengalami demam yang tinggi yang sudah beberapa hari dirasakannya.

Marta dan suami mengira itu adalah demam yang biasa, namun ketika dibawa ke dokter, pasangan ini kaget bukan kepalang ketika menerima penjelasan dokter. Monika dinyatakan positif mengidap Leukemia (kanker dara) dan ia memerlukan transfer sumsum tulang belakang sesegera mungkin untuk menyelamatkan nyawanya.

Kepanikan Martha dan Peterson semakin menjadi ketika Dokter mengatakan bahwa satu-satunya harapan untuk nyelamatkan Monika adalah mencari pendonor sumsum tulang belakang. Biasanya yang cocok adalah keluarga terdekat dari Monika.

Setelah diperiksa semua keluarga ternyata tidak ada yang cocok dengan sumsum tulang belakang Monika. Dokter mengatakan harapan yang terakhir adalah orangtua Monika. Mendengar penjelasan dokter, raut wajah Peterson dan Marta berubah.

Apalagi dokter mengatakan kalau cara ini merupakan cara yang terbaik untuk menolong penderita leukimia. Dokter menyarankan agar pasangan ini kembali memiliki anak dan mendonorkan darah anaknya untuk Monika, karena cara ini merupakan cara yang terbaik untuk menyelamatkan penderita leukimia, dan cara ini tidak berpengaruh terhadap bayi.

Mendengar ini, dengan mata berkaca-kaca Monika berkata dalam hati, "Tuhan....mengapa jadi begini keadaannya?.

Keesokan harinya, Pasangan ini menemui dokter yang merawat Monika. Dengan muka yang pucat pasangan ini bercerita serius dan mau jujur kepada dokter. "Ada yang ingin kami bicarakan dengan dokter, dan ini sangat penting.

Kami berharap Dokter berjanji untuk menjaga rahasia ini, Karena ini merupakan rahasia yang kami simpan selama bertahun-tahun." Dokter itu pun menganggukkan kepalanya, lalu mereka menceritakan bahwa 10 tahun yang lalu ia telah diperkosa hingga hamil oleh pria berkulit hitam saat pulang dari kerja.

Mendengar keterangan dari pasangan ini, dokter pun merasa terharu dan tak terasa air matanya keluar perlahan-lahan membasahi pipinya. Kini ia memahami mengapa pasangan ini menolak untuk memiliki anak untuk didonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Monika. Dokter pun dengan perlahan mengatakan "Kalian harus mencari ayah kandung Monika. Barangkali sumsum tulang belakangnya cocok untuk Monika" kata dokter.

"Tetapi apakah kalian bersedia membiarkan ia kembali muncul dalam kehidupan kalian" sambung dokter tersebut. "Demi Monika, saya bersedia. Jika pria tersebut muncul dan mau menyelamatkan Monika. Maka aku akan memaafkannya dan aku tidak akan memperkarakannya." Dokter pun terkejut mendengar penjelasan dari Martha yang memiliki hati seorang ibu.

Martha dan Peterson pun memutuskan untuk memuat berita pencarian pria berkulit hitam tersebut di sebuah surat kabar dengan menggunakan nama samaran. Surat kabar tersebut memuat berita pencarian pria ini. Isi berita ini memohon kepada sang pelaku pemerkosaan untuk berani muncul demi menolong Monika yang menderita leukimia.

Begitu terbit, surat kabar ini banyak mendapat tanggapan dari para pembaca hingga menggemparkan kota itu. Orang-orang pun tertarik ingin bertemu dengan wanita ini dan berharap bisa memberikan bantuan kepadanya. Berita itu pun sampai di kota Napulese, Italia. Berita itu sampai pada seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun.

Pria itu bernama Ajili yang memiliki kulit hitam. Ternyata Ajili adalah ayah dari Monika. Ketika berita itu sampai kepadanya, perasaan Ajili terasa tercabik-cabik. Ia ingat betul bagaimana kejadian waktu itu, ia yang dalam kondisi yang marah dan telah memukul bosnya karena sering memarahinya berlari keluar restoran tepat ia bekerja.

Ia pun bertekad ingin balas dendam dengan setiap orang yang berkulit putih. Ditengah jalan ia beremu dengan Martha, ia pun memperkosa Marta hingga tak sadarkan diri. Ajili lalu melarikan diri ke Napulese dan kemudian ia bekerja di restoran milik orang Amerika. Orang Amerika ini mengagumi kemampuan Ajili, lalu menikahkannya dengan anaknya bernama Lina. Ajili pul dipercaya mengelola toko mereka, dan telah memiliki 3 anak.

Ajili tidak pernah melupakan dosa yang telah diperbuatnya kepada Marta hingga ia selalu memohon ampunan pada Tuhan dan berharap melindungi wanita yang pernah diperkosanya.
Ajili tak menyangka jika wanita yang diperkosanya itu telah mengandung anaknya, melahirkan dan membesarkannya.

Ajili merasa resah dan bingung, jika ia mengakui perbuatannya, maka ia akan merasa malu karena semua orang apalagi keluarganya atas perbuatannya itu. "Apakah mereka semua masih menerima aku?" gumam Ajili. Malam itu, seluruh keluarga Ajili pun mendiskusikan kasus Marta yang terbit di koran itu.

"Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku berada di posisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak hasil perkosaan hingga dewasa.' Kata Lina istrinya. "Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang demikian” sambungnya lagi. "Bagaimana jika aku adalah pelaku pemerkosaan itu?" Kata Ajili.

"Sedikitpun aku tak akan memaafkannya!!!," balas Lina. Setelah berhari-hari, ia pun memberanikan diri menelepon dokter yang telah merawat Monika. "Dokter, aku ingin mengetahui keadaan anak yang dirawat di rumah sakit ini bernama Monika", tanya Ajili yang berusaha untuk tenang.

"Keadaannya sangat parah, Entah apa ia dapat menunggu hari kemunculan ayah kandungnya," Jawaban dokter ini begitu menyentuh hati Ajili hingga membulatkan tekadnya untuk menolong Monika. Ajili pun memberanikan diri untuk jujur kepada istrinya. Mendengar perkataan Ajili, istrinya pun terkejut dan marah hingga ia pergi kerumah orangtuanya meninggalkan Ajili seorang diri.

Lina menceritakan segalanya kepada kedua orangtuanya tentang Ajili. Namun, orang tua Lina menasehatinya karena keberanian Ajili untuk bertanggung jawab terjadap Monika. Keesokan harinya Lina kembali kepada Ajili dan menatap Ajili dengan penuh penderitaan. "Ajili, pergilah dan temui dokter itu untuk menanyakan tentang Monika! Aku akan ikut menemanimu!"

Ajili pun pergi bersama istrinya menemui dokter itu dan memeriksakan DNA Ajili. Hasilnya mengejutkan dokter, ternyata Ajili memang benar-benar ayah Monika. Martha yang mengetahui bawa pria yang telah memperkosanya tersebut berani memunculkan dirinya pun tak dapat menahan air matanya. Rasa dendam yang ia simpan bertahun-tahun kini berubah menjadi haru.

Marta dan suami pun ingin bertaap muka dengan Ajili, namun Ajili masih belum berani untuk bertemu dengan pasangan itu. Hingga sampai permohonan yang ketiga dari Martha, Ajili pun menyetujui untuk bertemu di ruang yang rahasia di rumah sakit tersebut. Saat melihat Martha, nampak wajah Ajili pucat pasih, lalu mereka saling berjabat tangan. Sambil menitikkan air mata, Ajili berkata "Aku mohon maafkanlah aku....maaf....sekali lagi maafkanlah aku" "Kalimat ini sudah aku pendam selama puluhan tahun, dan hari ini aku dapat kesempaan untuk mengucapkannya langsung kepadamu" kata Ajili.

"Terimakasih Kau telah hadir. Semoga sumsum tulang belakangmu dapat menolong putriku" Balas Martha tanpa banyak bicara. Akhirnya Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili.
Monika pun telah melewati masa kritis dan diperbolehkan pulang. Martha dan Peterson suaminya akhirnya memaafkan Ajili, dan pasangan ini pun mengundang Ajili serta dokter yang mengobatinya datang kerumahnya untuk merayakan atas keselamatan Monika.

Namun, Ajili tidak dapat hadir, ia hanya mengirimkan surat yang dititipkannya kepada Dokter tersebut. Dalam surat itu ia menyatakan penyesalannya yang amat dalam serta memohon maaf atas perbuatannya yang telah membuat hidupnya tidak tenang. "Sungguh, aku tak ingin mengganggu kehidupan kalian. Semoga kalian selalu berbahagia, dan semoga Monika juga bahagia hingga dewasa bersama kalian." "Monika adalah orang yang telah memberiku kehidupan yang baru, dan telah memberi kesempatan untukku menebus dosa yang telah kulakukan. Dia adalah hadiah terbaikku."

Sumber : sripoku

Posting Komentar

0 Komentar